Belajar Drum Tanpa Drum (part.1)

Desember 31, 2008 at 2:04 pm (MUSIC)

Oleh Chucky US (”GODSWILL DRUMER”)

Sebenarnya ini tulisan lama. Cuma entah lupa atau memang sudah pernah saya post disini. Ya gak apa-apa toh, kan siapa tahu ini meng-update posting sebelumnya. Dan kalo memang sudah ada, toh tinggal di hapus.

Anyway kenapa saya terdorong untuk menulis ini? Karena saya sendiri belajar drum tanpa drum. Ok, emamng dulu saya punya drum. Cuma pada saat saya mulai serius belajar drum, malah gak drumnya yang gak ada. Lantas saya menyerah? Tentu saja tidak. Ada seribu satu cara untuk berhasil.

Kita mulai dari latar belakangnya. Drum bukan sebuah instrumen yang ergonomis. Dalam artian, drum membutuhkan ruangan yang luas dan khusus (studio.red) — khususnya drum, akustik. Harga drumsetnya sendiri tidak terbilang murah.

Pengguna aktif metode ini biasnya orang yang memiliki alokasi dana yg terbatas. Bukan mereka tidak punya uang, namun rasanya terlalu dini mengeluarkan uang lebih, untuk sesuatu yang baru dimulai. Begitu juga dengan orang-orang yang memilik keterbatasan tempat. Apa lagi kalo kos atau numpang seperti saya.

Metode ini juga tidak terbatas bagi orang-orang awam. Banyak drummer, bahkan yg pro, memilih berlatih drum tanpa drumset. Kenapa? Karena itu berarti membatasi ruang gerak. Berlatih harus bisa dimana saja, sehingga selain lebih efektif, progresnya jg nyata.

Media berlatih jadi poin berikutnya, dan ini poin yang vital. Sebelum kita mulai, pastikan bahwa anda memiliki stick yang tepat. Anda boleh tidak memilik drum untuk berlatih, tapi tolong lah, jangan stick juga minjem.

Media berlatih ada bermacam-macam. Yang paling sering digunakan, adalah bantal yang disusun menyerupai drumset. Konyol? Hehehe memang drumming itu dimulai dengan kekonyolan kok — bukan konyol belajar memukul alat musik?? Tapi gak usah heran, karena hampir 70% orang yang memulai belajar drum di Indonesia mulai dengan bantal.

Namun media ini, yang notabene biasa diritualkan diatas tempat tidur, memiliki kelemahan vital. Sebagian karena posisi kaki jadi terlipat. Ini membuat perbedaan sangan mencolok saat bermain di drumset sebenarnya. Masih karena posisi. Metode ini merusak bentuk tubuh jika nantinya bermain di drumset sungguhan. Namun bukan awal yang buruk untuk mulai belajar drum, karena saya sendiri mulai dengan cara ini.

Berikutnya ini yang paling disukai oleh drummer, practice pad kit. Bahkan drummer-drummer pro dalam dan luar negri, menggunakna ini sebagai media latihan reguler mereka, atau sekedar warming-up sebelum tampil. Kelebihannya, tentunya mirip sekali dengan drum sungguhan dengan less distorsi, alias gak berisik. Selain itu praktis. Biasanya gak usah di set benar-benar menyerupai drumset. Hanya perlu 1-2pad buat tangan dan satu buat kaki untuk reguler practice, dan satu pad saja untuk sekedar warming up.

Bagaimana cara memprolehnya? Kalo dulu mungkin hal yang mustahil untuk memiliki practice pad di Jakarta. Biasanya mereka yang punya karena membeli di luar sewaktu mereka ke luar negri, atau mengordernya. Dan tentu saja harganya masih mahal. Namun untuk saat ini, practice pad dengan mudah ditemukan. Dari buatan luar, sampai buatan dalam negri.

Dengan harga 250-350 ribu, kita sudah dapat memilik practice pad dengan ukuran 6″ s/d 12″. Itu kalo kita beli merek luar. Kalo merek dalam negri, hanya sekitar 60-100 ribu rupiah. Modelnya juga beraneka ragam. Mulai dari yang mobile (yang digunakan di paha), sampai dengan yang bisa di attc. ke stand. Bersama stand simbal/snare dengan merek Yamaha, maka kita sudah bisa membawa pulang practice pad reguler dengan harga tidak sampai 500 ribu.

Kalo dibanding dengan drum set+peredam memang murah, namun untuk sebagian orang angka ini masih terbilang mahal. Ok kita cari opsi kedua. Coba untuk bikin sendiri. Bikin sendiri? Yup. Gak sulit kok. Tinggal cari papan kayu, dan lapisi menggunakan ban dalam mobil. Ban dalam mobil sendiri kira-kira 10 ribu rupiah. Lapisi satu demi satu menggunakan lem karet (aibon juga bisa) sampai kira-kira cukup tebal (sekitar 4-5kali).

Male bikin sendiri? Selain opsi tsb, masih ada opsi kreativ lainnya. Silahkan anda ke toko yang menjual alat-alat olah raga. Beli sepasang batt (raket pimpong) — soalnya biasanya hanya jual sepasang. Lantas potong gagangnya. Viola! Anda memiliki sepasang pad drum.

Standnya? Jangan seperti orang susah dong. Ini Jakarta bung, apa aja bisa dicari. Coba anda jalan-jalan ke pasar Senen, (atau kemana saja )yang kira-kira anda bisa menemukan lapak yang menjual drum-druman (yang biasa di pakai buat ngamen). Cari standnya aja. Biasanya mereka mau kok jual standnya aja.

Untuk bass drum practice pad, kebetulan sudah ada buatan lokal. Dan kebetulan saya juga menjualnya. Silahkan cek disini. Harga sekitar 300 ribu. Jadi dengan practice pad — bahkan dengan posisi menyerupai drumset, kocek yang dikeluarkan masih di bawa 1,6 juta.

Kendalanya menggunakan practice pad kit? Biasanya karena suaranya monoton, sehinggah mudah terserang kejenuhan. Selain itu, feelnya memang tidak bisa mendekati drumset asli. Tapi bukannya ini yang namanya keterbatasan kan?

Selain Media Statis (karena biasanya kita terpaku pada media, alias diam), ada juga Media yang Dinamis. Disebut Media Dinamis karena kita bisa berlatih sambli mengerjakan hal lain. Tidak terpaku pada satu hal.

Yang paling ‘primitf’, dengan menggunakan paha. Walaupun primitf, namun terbukti cukup efektif. Selain itu ada juga teknik yang di-share-kan oleh anak-anak Farabi. Dengan menggunakan Butt stick, atau biasa disebut Butt Technique. Dengan ini kita bisa melatih beberapa rudiment yang penting.

Selain itu ada tekniknya Jojo Mayer, berlatih drum tanpa stick (ini ilmunya jauh lebih hebat lagi). Claps Technique. Ini kedua tangan menepuk ya. Jadi ok bangat buat ngelatih kontrol. Saran dari herr Jojo, mainkan 8X100 tepukan. Di jamin anda akan pegal sebelum 20X, apa lagi bagi pertama kali nyoba. Huff.

Sebenarnya ada banyak macam lagi teknik dinamis. Anda bisa mencarinya di forum-forum drum.

Setelah bicara mengenai Medianya, sekarang kita masuk bagaimana Metode Latihan. Mengingat sebagian besar metode latihannya agak berbeda.

Lanjutkan ke Metode Latihan Drum Tanpa Drum…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: